Tampilkan postingan dengan label MATERI KELAS 2. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label MATERI KELAS 2. Tampilkan semua postingan

Senin, 17 Agustus 2015

PENGGUNAAN KALIMAT TANYA

Menanyakan sesuatu dengan maksud untuk mendapatkan suatu jawaban. Unsur terpenting dalam kalimat tanya ditekankan pada intonasi pengucapannya.
Macam-macam kalimat tanya :
1. kalimat tanya biasa; yakni kalimat tanya yang menggali informasi. Rumus kalimat tanya pada    
    umumnya menggunakan unsur 5W + 1H (what, when, where, who, why,  dan  how) Rumus ini  
    biasanya digunakan untuk wawancara atau dialog. Pertanyaan-pertanyaan diajukan kepada
    narasumber sehingga akan mendapatkan jawaban secara jelas.
    Contoh : mengapa pengairan untuk tanaman padi harus cukup?

2. Kalimat tanya retorik/retoris; yakni jenis kalimat tanya yang tidak memerlukan jawaban. Kalimat tanya
    retorik, jawabannya sudah diketaui oleh kedua belah pihak, atau kalimat tanya yang jawabannya
    sudah terkandung di dalam pertanyaan tersebut.
    Contoh : bagaimana nilai Anda baik, belajar saja tidak pernah?

3. Kalimat tanya konfirmasi/klarifikasi; suatu kalimat tanya yang menanyakan sesuatu yang
    jawabannya cukup ya/tidak, benar/salah.
    Contoh: Apakah Ayah Andi pulang?

4. Kalimat tanya tersamar; yaitu kalimat tanya secara tidak langsung, bukan menggali informasi,
    klarifikasi, atau konfirmasi, tetapi mengandung maksud tertentu. Pada umumnya pertanyaan
    mengandung permohonan, meminta, menyuruh, mengajak, merayu, meyakinkan, menyanggah,
    menyetujui, bahkan menyindir.
    contoh : tidak keberatankah Anda untuk antri?

APA YANG DIMAKSUD PERTANYAAN TOTAL DAN PERTANYAAN PARSIAL?

Pertanyaan total adalah kalimat tanya yang meminta informasi mengenai seluruh isi pertanyaannya. (biasanya menggunakan intonasi tanya dan menggunakan partikel (kah) atau (apakah). Jawabannya cukup dengan kata (ya) atau (tidak)

Pertanyaan parsial adalah kalimat tanya yang hanya meminta informasi sebagian dari pertanyaan itu. Kalimat tanya seperti ini biasanya menggunakan kata tanya tertentu.

Kamis, 30 April 2015

UNSUR-UNSUR LAPORAN

UNSUR-UNSUR LAPORAN SECARA FORMAL

Tinjauan dari segi struktur penulisannya, laporan terdiri atas bagian-bagian sebagai berikut:
1. Halaman judul
2. Halaman pengesahan
3. Kata pengantar
4. Daftar isi
5. Daftar tabel (jika ada)
6. Daftar grafik (jika ada)
7. Bagian Pendahuluan; mencakup : latar belakang, tujuan, ruang lingkup masalah/objek, 
    pembatasan masalah/objek, dan sebagainya
8. Bagian isi; berisi tentang uraian pembahasan masalah yang dilaporkan serta hasil yang dicapai
9. Bagian penutup; berisi simpulan dan saran, pada umumnya menyangkut masalah pokok atau
    intisari dari pembahasan laporan serta penyampaian keinginan pelapor terhadap hal-hal yang
    berkaitan dengan laporan demi perbaikan laporan berikutnya.
(berikutnya ...)

Rabu, 29 April 2015

PARAFRASE

Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia, parafrase, artinya :
1. Pengungkapan kembali suatu tuturan dari suatu tingkatan atau macam bahasa menjadi macam yang     lain tanpa mengubah pengertiannya.
2. Penguraian kembali sebuah teks (karangan) dalam bentuk (susunan kata-kata) yang lain, dengan 
    maksud untuk dapat menjelaskan makna yang tersembunyi.

Parafrase mengandung arti pengungkapan kembali suatu tuturan bahasa atau karangan menjadi bentuk lain, namun tidak mengubah pengertian awal atau aslinya. Penampilan parafrase dalam bentuk lain dari bentuk aslinya. Misalnya, dari bentuk wacana asli berubah menjadi wacana yang lebih ringkas, bentuk puisi berubah menjadi prosa, dari bentuk drama diubah menjadi prosa dan sebaliknya. Parafrase cendurung diuraikan menggunakan bahasa si pembuat parafrase bukan diambil dari kalimat sumber aslinya, namun tidak boleh menyimpang dari makna atau maksud isi wacana aslinya.

CARA MEMBUAT PARAFRASE
1. Baca naskah yang akan diparafrasekan sampai selesai, untuk memperoleh gambaran umum isi
    bacaan tersebut;
2. Baca naskah sekali lagi dengan memberikan tanda pada bagian-bagian penting dan kata-kata kunci
    yang terdapat pada bacaan;
3. Catatlah kalimat inti dan kata-kata kunci secara sistematis/berurutan.
4. Kembangkan kalimat inti dan kata-kata kunci menjadi gagasan pokok yang sesuai dengan topik
    bacaan;
5. Uraikan kembali gagasan pokok menjadi paragraf yang singkat dengan bahasa/kalimat yang dibuat     sendiri.

PERHATIKAN CONTOH MEMBUAT PARAFRASE TEKS BERIKUT :

Masalah-masalah yang dihadapi di bidang pendidikan pada saat akan dimulainya pelaksanaan kurikulum sangat mendesak. Di bidan kurikulum terasa sekali kebutuhan akan pembaruan agar sistem pendidikan dapat memenuhi tuntutan pembangunan dan kemajuan teknologi. Di samping itu, terdapat ketidakseimbangan baik di antara berbagai tingkat pendidikan vertikal maupun di antara jenis pendidikan. Jumlah anak yang tidak tertampung di sekolah jauh lebih besar daripada jumlah anak yang bersekolah. Demikian pula jumlah anak yang putus sekolah (drop out) jauh lebih besar daripada mereka yang berhasil menyelesaikan suatu tahapan pendidikan.

Sementara itu, tenaga-tenaga yang bekerja di bidang pendidikan baik teknis maupun administratif sangat kurang jumlahnya. Di samping itu, mutu keahlian tenaga-tenaga tersebut perlu ditingkatkan. Prasarana pendidikan seperti gedung dan ruang belajar sangat tidak mencukupi. Buku-buku kurang memadai. Kecuali itu, sedikit sekali sekolah yang memiliki perpustakaan, alat-alat peraga ataupun laboratorium dan tempat praktik yang layak.

Akhirnya, organisasi dan pengelolaan pendidikan di pusat maupun di daerah belum mencerminkan kerja sama yang serasi. Demikian pula belum ada sistem informasi pendidikan untuk keperluan perencanaan yang terarah.

Teks di atas dapat diubah menjadi parafrase sebagai berikut :

banyak masalah berat yang dihadapat pada awal perubahan kurikulum; masalah kurikulum itu sendiri, ketidak seimbangan tingkat dan jenis pendidikan; penampungan jumlah murid dan dan masalah putus sekolah; kekurangan tenaga pendidik; mutu keahlian dan fasilitas pendidikan, serta kurangnya kerja sama dan sistem informasi yang terarah.

Jumat, 24 April 2015

TEKNIK MENYIMPULKAN INFORMASI SECARA DEDUKSI DAN INDUKSI

ARTIKEL PENDIDIKAN
BAHASA INDONESIA (narto-Bin)



Teknik simpulan secara induksi dilakukan terhadap data (pernyataan) umum kemudian ditarik simpulan khusus. Sebaliknya, teknik induksi dilakukan terhadap data (pernyataan) khusus diikuti pernyataan umum.

Bahasa bukan hanya dilukiskan sebagai rangkaian bunyi, tetapi didefinisikan sebagai substansi bentuk, ekspresi, dan isi. Sebagai substansi, bahasa merupakan segala sesuatu yang dapat dibicarakan, sedangkan sebagai bentuk, bahasa merupakan formalisasi bagian-bagian dalam konsep. Sebagai ekspresi, bahasa merupakan media fisik dan sebagai isi, bahasa merupakan formalisasi media ke dalam unit ekspresi.

Dalam kutipan tersebut di atas dimuat ide utama/pokok dan ide penjelas. Ide utama disebut pernyataan umum.  Pernyataan umum tersebut diuraikan, dijelaskan  melalui kalimat-kalimat penjelas. Ide penjelas itulah yang disebut pernyataan khusus. Dalam kalimat bertugas menjelaskan, menguraikan isi pernyataan umum. Jadi kutipan di atas umum ke khusus (deduksi)
Bandingkan dengan pernyataan berikut ini :

Pertama kali seseorang belajar bahasa dapat dilakukan dengan mempelajari bunyi-bunyi bahasa. Selanjutnya beralih mempelajari makna bahasa. Langkah berikutnya adalah menkaji struktur bahasa. Langkah terakhir dapat menganalisis dan menggunakan bahasa dengan tepat. Beginilah cara belajar yang efektif.


kutipan tersebut di atas dimulai dari uraian-uraian yang merupakan pernyataan-pernyataan khusus, dan diakhiri pernyataan secara umum (disimpulkan). Inilah cara simpulan Induksi

Jenis penalaran dalam simpulan deduksi;
1. pola penalaran secara langsung (entimen)
2. pola penalaran secara tidak langsung (silogisme)
    Penalaran secara silogisme, memerlukan dua data untuk disimpulkan, yakni premis umum     
    (PU/Mayor) dan premis khusus (PK/Minor)

CONTOH MENYIMPULKAN SECARA SILOGISME

PU    : Binatang menyusui melahirkan anak tidak bertelur
PK    : Ikan paus binatang menyusui
Simpulan (K) : IKAN PAUS MELAHIRKAN ANAK DAN TIDAK MENYUSUI

PU    : Orang yang memperhatikan anak-anaknya adalah ayah yang baik.
PK    : Muryanto bukan orang yang memperhatikan anak-anaknya
K      : Muryanto bukan ayah yang baik

Jenis penalaran dalam simpulan Induksi;

1). Generalisasi;  2). Analogi;   3) Kausalitas

Generalisasi; proses penalaran yang menggunakan beberapa pernyataan yang mempunyai ciri-ciri tertentu untuk mendapatkan simpulan secara umum.

PERHATIKAN CONTOH

Setelah kerangan anak-anak kelas dua diperiksa, ternyata Dwi, Didik, Agung, dan Kiki, mendapat nilai delapan.  Anak-anak yang lain mendapat nilai tujuh. Hanya Elisa yang memperoleh nilai enam dan tidak seorang pun mendapat nilai kurang. Boleh dikatakan anak-anak kelas tiga cukup pandai mengarang.

Simpulannya, dari data khusus perolehan nilai Dwi, Didik, Agung, dan Kiki, serta kita hubungkan dengan penalaran logis, maka dapat disimpulkan bahwa anak kelas tiga boleh dikatakan cukup pandai mengarang.

Analogi; yaitu cara bernalar dengan membandingkan/meniru/mencontoh dari dua hal yang memiliki kesamaan sifat/bentuk/cara. Teknik ini didasarkan asumsi bahwa jika sudah ada persamaan dalam berbagai segi/sifat/bentuk, maka akan ada persamaan pula dalam hal/bidang lain.

PERHATIKAN CONTOH.

alam semesta berjalan dengan sangat teratur, seperti halnya mesin. Matahari, bumi, bulan, dan bintang yang berjuta-juta jumlahnya, beredar dengan teratur, seperti teraturnya roda mesin yang rumit berputar. Semua bergerak mengikuti irama tertentu. Mesin rumit itu ada penciptanya, yaitu manusia. Tidaklah alam yang mahabesar dan beredar rapi sepanjang masa ini tidak pula ada penciptanya? Pencipta alam tentu adalah zat yang sangat maha. Manusia menciptakan mesin, sangat sayang akan ciptaannya. Pasti demikian pula dengan Tuhan, yang pasti akan sayang pada ciptaan-ciptaan-Nya itu.

Dari hasil membanding-bandingkan pernyataan di atas, dapat disimpulkan; bahwa Tuhan akan sayang terhadap ciptaan-Nya.